Saya butuh reset.
Saya perlu ketenangan yang biasanya enggak saya usahakan karena emang saya suka keramaian dan keributan, hahahaaa~
Namun, Ramadan ini, saya mau sendirian. Saya dan mungkin dengan si Tuan aja.

Photo by Rawan Yasser on Unsplash
Saya enggak capek. Bukan karena itu juga. Saya jarang sekali merasa capek. Lebih sering saya ngerasa bosan. Kebosanan itu ngebuat saya ngelakuin banyak hal yang enggak penting dan nanti suatu saat jadi penting. Misal, saya pernah mengetik ide entah apa berjam-jam yang pada akhirnya dipakai untuk konsep awal sesuatu yang saya mau buat.
Saya butuh reset. Sebulan ini.
Saya mau duduk lama dan mikir.
Atau, jalan jauh dan mikir.
Bersyukur sama banyak hal yang saya punya sekarang ini.
Kegiatan di MQI udah jalan juga, sih, pekan depan. Jadi, sebenarnya … yah, enggak akan setenang yang saya harapkan juga.
Trus, saya mau nulis di sini tentang hal-hal yang saya temui sebulanan ini. Saya enggak yakin apa saya akan ngurusin sosial media saya karena saya tahu, di sana saya malah akan banyak ngelakuin hal-hal yang enggak baik. Berantem dan berdebat, misalnya. 😀
Saya jadi berantem dan berdebat karena enggak tahan menghadapi argumen atau opini dari orang (atau akun) yang enggak bisa mikir atau pikirannya berantakan dan dikuasai emosi. Emosi, kan, bukan pikiran. Ketika emosi jadi dasar argumen, hadeh … itu argumen akhirnya didasarkan pada; perasaan saya, saya pernah mengalaminya. Semua itu boleh, sih, tetapi itu masuk ke opini dan pengalaman pribadi dan kedua hal ini enggak bisa dijadikan dasar untuk menggeneralisasi sesuatu–seolah pengalaman dan opini itu universal.
At the end of the day, sosmed adalah echo chamber, bukan tempat berpikir.
Seringkali saya ngeliat di sana ada orang-orang yang rajiiin sekali ‘ngajarin’ tentang AI atau cybersecurity dan bikin kelas (padahal kelas serupa ada di Coursera kalo emang pengen banget belajar online), tetapi orang-orang ini enggak bekerja di bidang itu. Yang bekerja di bidang itu, enggak rajin ngajarin di sosmed karena setiap hari juga udah sibuk. Ketika yang ikut kelas mereka itu ngelamar kerja ke perusahaan yang emang legit, enggak diterima. Lagi-lagi, kalo urusannya meritokrasi, tentu perusahaan akan nyari orang dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang relevan, bukan hasil kelas online. Semakin longgar sistem meritokrasi dari sebuah keahlian, emang semakin mudah itu semua diperjual-belikan. Kita enggak pernah denger ada kursus online untuk Ners, misalnya, orang harus beneran sekolah. Dan, dunia yang saya ada di dalamnya, dunia kepenulisan, adalah dunia dengan sistem meritokrasi yang longgarnya keterlaluan. Bisa nulis kalimat berbunga … udah ngerasa sejajar dengan Chairil Anwar–bahkan, kalo enggak tahu Chairil Anwar itu siapa.
Saya lagi pengen mengistirahatkan diri dari keributan yang enggak penting itu.
Begitu, lah.
Kadang, di ujung debat itu, ada yang nulis; kami rakyat kecil, orang susah, mereka itu punya privilage.
Benar. Karena itu yang jadi akarnya. Sebenarnya.
Gitu, deh.
Karena saya belum tahu apakah catatan saya selama Ramadan ini akan saya publish kayak biasanya atau akan saya private, jadi saya enggak menyapa kayak biasa, deh.
***