Jadwal MQI udah keluar kemarin dan saya mulai siap-siap ngatur hidup selama Ramadan ini biar lebih masuk akal.

Photo by Mosquegrapher on Unsplash

Kadang kalo mau tidur, lampu udah di matiin, dan saya belum mau beneran tidur–tapi malah ngeliat ke langit-langit kamar dan mikirin banyak hal yang ada di depan saya, rasanya … kayak; saya perlu diyakinkan bahwa semua ini perlu dan bisa dilakukan.

Masalahnya bukan di saya kadang, tetapi di ‘penonton’.

Saya udah lama enggak peduli dengan penonton yang bukan bagian dari apa yang saya lakukan, lebih spesifik, bukan tim saya. Namun, mereka juga enggak bisa dikatakan sebagai penonton karena mereka bekerja bareng saya.

Penonton yang lain, seringkali maunya saya ngerjain semua dengan cepat, ada duitnya (banyak kalo bisa), dan mereka dapat bagian (uang dan portofolio), tetapi enggak mau bersusah-susah mengurus hal-hal yang diperlukan untuk mendapat itu semua. Penonton yang paling menyebalkan adalah akun-akun (karena saya enggak yakin kadang apakah mereka orang atau bukan) yang melihat dan mengomentari seolah komentar mereka dibutuhkan dan jadi penentu saya akan berhasil atau enggak. Semua ini, semua penonton ini, ngebikin saya kadang jadi males mau ngapa-ngapain.

Jadi istri orang aja udah lebih dari cukup untuk saya hidup dan bersenang-senang soalnya. Saya memilih melakukan ini semua karena saya ingin, ini cita-cita saya. Salah satu resiko punya cita-cita emang penonton yang selalu bacot itu, hadeh. Kadang juga merendahkan. Seringkali sok tahu.

Namun, lama-kelamaan saya paham itu semua dan mulai belajar untuk bodo amat. Kalo saya lagi kesel banget dan saya curhat ke si Tuan, palingan dia bilang, “Yaaa … blacklist aja. Kalo lo buka job opening, dia ngelamar, yaudah jangan diterima.”

“Enggak adil, dong.”

“Loh, adil. Adil buat lo. Lo berhak dapet pekerja yang sesuai dan cocok dengan lo. Yang paham dan enggak merendahkan lo. Kita semua enggak tahu akan sampai setinggi apa lo nanti….”

“… atau kegagal apa gue.”

“Itu juga benar.”

Balik ke jadwal. Jadwal yang saya dapatkan itu kayak jadwal kuliah yang enggak tiap hari harus dihadiri, tetapi ditandem dengan pembelajaran lewat Coursera. Jadi, tiap hari harus dikerjain. Mau mengeluh, saya selalu ingat bahwa tempat saya sekarang adalah sesuatu yang banyak orang inginkan tetapi enggak punya akses ke situ–saya bantu juga enggak akan bisa karena aksesnya spesifik dan ada aturannya.

Jadi, yaaah … dikerjain sebaik-baiknya. Opsi saya cuma ini.

Yang saya suka dari MQI dan mentor di sana adalah; saya enggak perlu hebat atau sempurna. Saya hanya perlu hadir.

Saya enggak akan direndahkan atau dikata-katain. Saya hanya perlu ada. Itu udah cukup.

Dan … iya, bisnis yang mau dijalankan musti dibentuk sebaik mungkin di sepanjang masa edukasi ini. Biasanya saya datang bersama si Tuan, tetapi kayaknya sekarang saya akan datang sendiri karena blio ngajar dan ada di lab di jam-jam itu. Hiks.

Begitu, lah.

Visited 3 times, 1 visit(s) today

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.