Saya suka pohon-pohon.
Kalo apa yang terbersit dan lewat sesekali lalu di dalam hati bisa dikatakan do’a, maka saya banyaaak sekali berdo’a tentang pohon-pohon. Saya mau ada di antara pohon-pohon.
Ke hutan aja, dooong?
Hmmm … yaaa, enggak juga. Saya takut juga di dalam hutan. Saya mau tinggal di tempat yang banyak pohonnya. Di Munjul masih banyak pohon tinggi. Dulu, ada beberapa pohon buni di sepanjang Jalan Buni, Munjul–makanya jalanan itu diberi nama ‘Jalan Buni’. Jaman saya kecil, saya dan teman-teman kadang ke pohon buni itu dan ngambil buahnya. Buah buni itu kalo dimakan, ninggalin bekas-bekas ungu gitu di mulut. Jadi, pas kami main ke pohon buni dan makan buah buni pas Ramadan … kelar kami. Boongnya langsung ketahuan. 😀

Sekarang saya tinggal di tempat yang banyak pohonnya. Kalo saya jalan pulang–dan, saya selalu ingin jalan dibanding naik metro atau bis–saya sering megang batang pohonnya dan ngomong sama pohon-pohon itu. Kayak, “Haaai, salam kenaaal. Kita temenan, yaaa!”
Keliatan kayak orang bego, sih. Hahahaaa~
Saya emang segitu senengnya bisa ketemu sama pohon-pohon yang cakep-cakep ini.
Kadang, saya tambahin, “Do’ain saya, yaaa~”
Saya nerima do’a dari siapa pun dan apa pun sekarang karena saya perlu banyak do’a. Kalo ada satu fase di hidup di mana manusia ngerasa sangat takut sekaligus sangat pasrah, ini adalah fase yang ada di saya sekarang. Segini takutnya, segini berusaha kuatnya, segini punya mimpi besarnya, tetapi juga, segini pasrahnya. Saya tahu, saya enggak bsia mengendalikan apa pun kecuali diri saya sendiri soalnya.
Do’ain saya, ya.