Kadang–kadang, ya, enggak sering banget–ada yang nanya ke saya dengan nada penasaran (menurut kepercayaan saya, hehe) kayak gini: Kok, lo bisa dapetin itu, sih?
Konteksnya bisa macem-macem. Kadang ada yang nanya di urusan proyek, atau kesempatan tertentu, atau spesifik rezeki tertentu.
Saya tahu cara jawabnya, saya jawab sejujurnya, tetapi biasanya … jawaban itu enggak akan jadi apa-apa karena saya jawab detail langkah per langkah pun, biasanya enggak bisa dicontoh. Banyak jawaban yang datang dari satu konsep yang namanya; compound (numpuk).

Photo by Iva Rajović on Unsplash
Ada yang saya usahakan bertahun-tahun dan enggak kelihatan. Misalnya; skill dan koneksi. Ini bukan skill yang bisa didapat dari 1-2 kali ambil kursus online atau offline doang. Kadang kala, itu adalah skill ketika digabungin semua, jadinya; domain of knowledge. Gabungan dari semua skill dan pengalaman itu, ngebuat satu keutuhan untuk kebutuhan knowledge tertentu. Misalnya di kasus saya; publikasi digital dan perpustakaan digital.
Wujud konkritnya adalah portofolio atau body of works (kalo saya menciptakan karya).
Bisa numpuk sesuatu jadi domain of knowledge ini, datang dari keadaan juga. Kayak efek domino emang pada akhirnya. Kamu punya sesuatu, kamu kejar, dapet, apa yang kamu dapet dipakai buat ngejar hal selanjutnya, trus mungkin gagal, dicoba lagi, dikejar lagi, dan seterusnya. Hal ini berlangsung bertahun-tahun. Di sepanjang jalan itu, ada pengalaman, pengetahuan baru, pemahaman terhadap cara kerja baru, dan banyak hal lain yang juga numpuk. Ini enggak bisa ditiru dengan instan.
Di perjalanan yang panjang itu, yang kamu bisa pegang cuma; keteguhan kamu sama visi kamu dan kejelasan misi kamu. Udah.
… mungkin bisa ditambah dengan megang Allah.
Makanya, ada orang yang enggak bisa ditiru atau diikuti perjalanannya bukan karena dia enggak ngebiarin atau ngasih tahu, tetapi karena emang enggak bisa dicontoh dan ditiru.
Saya secara sadar menjaga apa-apa aja yang lagi saya tumpuk. Saya juga secara sadar memahami bahwa perjalanan menumpuk ini semua akan lama dan bisa jadi berliku. Namun, saya juga secara sadar mengerti bahwa bisa jadi semua ini punya probabilitas keberhasilan dan kegagalannya. Jadi … yah, emang pada akhirnya saya cuma bisa bilang dengan ucapan klise yang ngambang kayak, “Yaudah, saya jalanin aja.”
Menangnya saya di perjalanan ini cuma satu; saya sadar sedang menumpuk dan paham apa yang perlu ditumpuk. Itu doang.