Saya selalu berencana karena saya tahu, pada akhirnya, Allah juga yang menentukan dan memutuskan. Makanya saya berencana. Biar Allah putuskan.
ε=ε=ε=(~ ̄▽ ̄)~

Pekan ini, saya dapat email kalo program magang yang saya ajukan ke kampus, namanya PACE IT, setelah ditawarkan ke mahasiswa, jumlahnya yang daftar enggak memenuhi kuota buat bisa jalan. Saya enggak dikasih tahu jumlah yang daftar berapa, tetapi buat bikin programnya jalan di semester ini, saya perlu sekitar 10-12 mahasiswa.
Setelah dapat email itu, saya diskusi sama si Tuan gimana cara menghadapi ini karena saya punya target dan saya mau tahu apakah hal ini ngebuat target saya terhambat.
Diskusi itu jadi ke mana-mana bahasannya sampai ke pertanyaan paling mendasar, “Lo mau apa? Kenapa lo mau ngerjain ini?”
Saya udah jawab ini ketika saya ngurus visa di tahun lalu. Saya bilang, “Gue mau berusaha dan berjuang dengan apa yang saya punya. Sebagai bentuk penghambaan kepada Allah dan kesyukuran sama banyak hal yang udah ngasih saya penghidupan sampai hari ini.”
Karena saya menjawab begitu, duluuu … saya baru paham di kemarin itu bahwa saya juga harus menerima bahwa ketika saya meletakkan pekerjaan sebagai penghambaan, maka apa yang Allah putuskan udah yang terbaik buat kelancaran penghambaan saya itu.
Jadi, apa pun yang terjadi, itu BAIK.
Penundaan, itu BAIK.
Saya berusaha mencamkan itu seharian karena ego manusia dan kemauan saya jelaaas … belum mau terima itu. Si Octa, kan, keras kepala. 😀
Saya ada di sini, di kota yang begitu indah dan banyak ngasih fasilitas ini, itu juga keputusan Allah yang BAIK.
Saya banyak berdo’a sebelum saya tahu kalo saya harus ke sini. Bahkan sebelum saya tahu bahwa opsi ini ada. Saya sering bilang ini, kayaknya; bahkan di mimpi dan harapan paling liar saya sekali pun, pindah ke sini dan masuk MQI itu enggak ada di list. Itu udah di luar kemampuan saya memikirkan bahwa itu bisa ada, bisa jadi jalan.
Kalo ternyata sekarang saya ngetik ini di kamar yang pencahayaannya bagus, jendela segede-gede gaban, dan itu termasuk salah satu hal yang saya harapkan selama saya di Jakarta, … maka, apa, sih yang enggak bisa Allah kasih? Selama itu adalah opsi yang bisa dikerjakan di atas muka bumi ini?
Jadi semua BAIK.
Ego saya musti nunduk.
Itu aja.
(╯°□°)╯︵ ┻━┻