Do’a yang paling sering saya panjatkan adalah tentang tempat.
Mungkin karena saya enggak pernah benar-benar punya tempat yang kalo saya ada di dalamnya, saya merasa bahwa itu adalah tempat saya. Karena sering banget berdo’a tentang tempat ini, saya pun jadi sering pindah-pindah tempat. Kalo dilihat dari polanya, biasanya saya pindah tempat setiap 6-7 tahun sekali. Setelah 7 tahun di Jakarta kemarin, saya pun pindah ke sini.
Namun, kali ini, saya enggak mendo’akan spesifik tempat tertentu. Sebelum saya pindah ke sini, saya mengalami tahun-tahun yang berat (duh, kayaknya saya pengen cerita detailnya, tetapi dicicil aja, ya) dan sering banget saya minta hal-hal kayak; laut, pantai, langit yang biru, buah-buahan (karena saya suka buah), dapur (karena saya suka masak), dan jalan yang bagus (karena saya suka jalan kaki). Saya enggak pernah menyebutkan tempatnya di mana, saya mendo’akan apa yang saya bisa lihat, rasakan, dan lakukan di tempat itu.

Tahun terakhir saya di Jakarta itu emang ‘sempat’ rasanya. Saya punya sepeda listrik waktu itu, saya bisa jalan ke mana-mana di sekitar rumah sama anak-anak. Namun, untuk urusan lain … rasanya sempit. Saya kayak udah ada di ujung sesuatu yang saya enggak tahu.
Di masa-masa ini, saya sering berdo’a juga tentang tembok yang akan diruntuhkan buat saya. Saya stuck. Banyak progres yang saya inginkan ada di Poddium, enggak terjadi. Sekuat apa pun saya berusaha. Belakangan, saya tahu, sebagian dari ini bukan salah saya. Menerima bahwa itu semua bukan sepenuhnya salah saya, itu juga sulit. Saya terbiasa mengambil tanggung-jawab untuk semua yang terjadi di Poddium.
“Yah, gimana caranya Poddium lo itu bakalan sesuai sama mau lo dan berprogres kalo ada orang jahat di dalamnya yang kerjaannya cuma boong terus dan memanfaatkan lo. Ini masih ditambah sama mulutnya yang fitnah lo ke sana-sini. Itu orang jahat juga sebagian dari masalah. Lo harus terima itu.” Si Tuan berkali-kali menyakinkan saya bahwa dimanipulasi itu sebagian besarnya bukan salah orang yang dimanipulasi. Itu manusia jahat emang hebat ngomong dan boong, saya bertahun-tahun berusaha membantu karena kasihan. Karena ada orang yang dia lihat kasihan sama dia, dimanfaatkan lah orang itu. Itu yang musti diterima.
Dan, itu sulit diterima. Lebih mudah menyalahkan diri sendiri soalnya.
Huft.
Balik ke urusan tempat.
Walopun saya baru tahu belakangan tentang orang ini ketika saya udah ada di sini, tetapi do’a saya tentang tempat lain yang bisa saya tinggali ini udah saya panjatkan kira-kira setahun sebelumnya. Di dalam do’a itu, saya juga minta kalo saya pindah, Poddium bisa saya bawa. Ketika saya berdo’a, saya enggak tahu gimana akan dikabulkan, gimana caranya, dan gimana mencapainya. Saya beneran enggak tahu. Saya cuma berdo’a, lalu saya percaya.
Saya suka jalan-jalan ke pantai setelah tinggal di sini. Saya baru sadar; ini, kan, yang gue minta.
Bukan cuma tempatnya, semuanya.
Semua ini adalah apa yang saya minta.
Saya udah dikasih.
Saya juga dijauhkan dari orang jahat itu sampai di titik di mana dia mau melempar fitnah pun udah enggak ada pengaruhnya. Palingan cuma akan bikin dia kelihatan makin jelek. Jadi, sebenernya Allah sedang menolong saya. Walopun berat prosesnya, pada akhirnya saya pindah juga. Pada akhirnya, saya mendapatkan ini semua.
Saya enggak punya rencana untuk mengubah do’a-do’a saya tentang tempat. Saya masih sering berdo’a tentang tempat-tempat yang lain. Kali ini bentuknya kantor, app, ekosistem digital … itu semua juga tempat, kan.
Di Ramadan ini, saya ngeliat lagi bahwa setiap kali saya jalan ke luar rumah, saya ada di dalam do’a yang sudah dikabulkan. Tugas saya berikutnya adalah bersyukur sama ini semua. Trus, lanjut bekerja. Bukan hanya karena saya emang butuh bekerja, tetapi juga sebagai bentuk kesyukuran.
Sebenernya hidup sederhana, ya…. Kita aja yang bikin jadi ribet gitu. 😀