Setelah masalah saya dengan orang jahat yang menipu dan membohongi saya bertahun-tahun, ketika semuanya kebongkar, saya sering banget bertanya sama Allah tentang keadilan dan pembalasan.

Saya enggak lihat apa yang terjadi setelah saya lapor ke mertuanya soalnya. Saya enggak mencari tahu. Saya melarang orang-orang terdekat saya untuk mencari tahu. Kalopun mereka tahu, saya minta mereka untuk enggak ngasih tahu saya.

Ini cara saya buat melindungi diri saya sendiri karena saya paham, enggak ada kebenaran yang bisa diberikan oleh orang tersebut. Dia hanya penuh dengan kebohongan dan manipulasi. Enggak akan ada kebaikan yang datang dari orang itu. Enggak akan ada pengakuan bahwa dia ngefitnah saya, bahwa dia mencuri uang saya, bahwa dia menipu saya. Kesadaran bahwa semua tindakan dia itu menyakitkan dan saya didzalimi aja enggak akan ada. Seperti yang saya bilang di tulisan saya tentang masalah ini sebelumnya; saya udah enggak yakin kalo dia itu manusia yang punya kemanusiaan.

Namun, saya tetap mendo’akan pembalasan dan keadilan.

Saya minta saya dibalas. Bukan dia. Saya.

Buat saya, saya penting.

Buat saya, penderitaan dan ketulusan saya yang saya berikan untuk membantu dia (dan orang-orang lain), itu penting. Itu nyata.

Saya minta itu semua dibalas dan jadi bantuan di hari-hari sulit saya.

Bagian yang paling menyakitkan dari itu semua, yang sampai bikin saya nanya berulang kali ke si Tuan untuk memastikan bahwa saya enggak gila adalah, “Gue bertindak benar, kan, ketika itu? Dengan semua yang gue tahu ketika itu? Gue udah baik, kan? Gue baik, kan?”

Saya nanya itu sambil nangis, biasanya.

Kalo kamu lihat betapa menyakitkannya semua yang udah saya lewatin sampai-sampai saya musti menanyakan hal itu, rasanya kayak … saya udah enggak punya apa pun yang bisa dipegang selain Allah. Karena dunia, bisa jadi, akan mengkhianati lagi. Membohongi lagi.

Orang itu, dengan utang dan fitnah sebesar itu ke saya, masih berusaha bilang dan menyampaikan ke orang-orang kalo dia akan haji furoda. Dia mau bulan madu ke Thailand dan Jepang. Dia dikasih apartemen sama mertuanya karena dia adalah menantu yang diidamkan–tetapi ini kontradiktif dengan pengakuan dia bahwa dia menikah dengan istrinya itu untuk menutupi perselingkuhan istrinya dengan abang sepupunya yang merupakan tokoh politik di daerah. Mertuanya menikahkan mereka untuk menutupi malu. Namun, karena dia anak baik dan mertuanya suka, makanya dia diajak untuk bekerja di tempat mertuanya jadi deputi–sebuah lembaga negara yang bergengsi. Trus dikasih fasilitas juga. Ini belum ditambah dengan pengakuan dia kalo dia adalah turunan darah biru di kampungnya dan mengelola puluhan hektar lahan sawit.

… tidak kah dengan semua keunggulan dan keberhasilan hidup itu, dia bisa bayar utang aja? Pasti uangnya ada, kan. Hidupnya udah baik banget begitu. Usaha saya untuk menyekolahkan dia, membantu dia, kan udah dibalas dengan fitnah. Apa itu belum cukup?

Allah.

Kok, ada yaaa … manusia sebiadab ini?

Sampai hari ini, saya masih berdo’a tentang keadilan dan pembalasan. Saya enggak lihat, saya enggak tahu apakah semua kejahatan itu sudah dibalas dan diadili. Yang saya punya hanya kepercayaan aja. Saya percaya. Udah.

Mau menganggap bahwa orang jahat itu adalah pelajaran, saya kadang masih mempertanyakan balik: Trus, pelajaran buat dia apa? Ini pelajaran saya doang? Hidup masih baik aja ke dia dan enggak ngasih dia pelajaran?

Si Tuan selalu bilang, “Lo itu diselamatkan dari dia.”

“Gimana dengan orang baru yang enggak tahu dia siapa dan sekarang hidup sama dia?” Kayak istrinya dan mertuanya.

Jawab si Tuan, “Yaaa … itu udah urusan mereka. Mereka berkeras percaya bahwa itu manusia orang baik juga udah enggak ada concern sama kita. Tugas kita udah selesai. Kebenaran tentang orang ini udah disampaikan. Selesai.”

“Kerugian gue?”

“Allah akan ganti.”

“Apa, iya?

“Lihat di mana lo sekarang. Pernah terbersit kalo lo akan sampai sini?”

Iya, saya udah dibalas.

Allah … tapi, ini sakit. Tahun-tahun produktif dan uang saya hilang karena penipuan dan kebohongan. Padahal saya ngelakuin itu untuk ngebantu dalam kebaikan. Trus setelah semuanya, hanya saya aja yang dirugikan? Hidup dia masih baik?

Allah, tetapi saya percaya. Entah gimana caranya. Saya percaya. Saya mau percaya pada keadilan dan pembalasan.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.