Kemaren malem kami dinner sama temen-temen lab si Tuan. Mereka ini campur gitu. Ada yang anak magang, lagi MRes, lagi Ph.D, lagi post-doc, ada yang kerja doang, dan ada yang pernah kerja bareng trus udah pindah.

Sebulan sekali mereka suka ngumpul dan muter makan di resto khas negara tertentu gitu. Semalem, kami ajak mereka makan di nasi bungkus Pandawa.

Seperti biasanya, kalo udah ngumpul gitu, banyakan ngomongin kegiatan dan visa.

Di jalan pulang, tinggal saya, si Tuan, dan satu cowok dari negara eropa gitu, lah. Dia baru kelar kontrak post-doc.

Kami ngobrol tentang rencana dia abis ini, trus mau ke mana, dan sebagainya.

Di salah satu momen, saya nanya sama dia, “Apa yang berubah dari lo selama dua tahun di sini?”

Dia jawab, “Everything.”

Saya juga gitu, sih. Hehe.

Dia lanjut, “Ini kota yang mengubah orang. Gue jadi suka sosialisasi, hiking, main. Gue berubah banget.”

“Jadi, kota bisa mengubah orang?” tanya saya.

Dia jawab, “Kayaknya iya. Gue pindah ke sini buat post-doc juga dengan harapan gue menemukan diri gue yang lain. Bukan yang riset dan balik rumah main games sampe pagi, walopun gue suka banget kayak gitu.”

Udah beberapa orang saya temui pindah ke kota lain karena ingin mengubah sesuatu dalam dirinya.

Kayaknya, kepindahan kita ke suatu tempat itu juga tentang tempat yang baru akan membuka hal di diri kita yang dulu belum bisa di-unlocked.

Semacam new main quest dan new side quest gitu.

Tapi, karena yang kita bawa adalah diri kita doang, jadinya diri kita musti siap dan kuat buat itu semua.

“Kalo nanti pindah kota, berubah lagi, dong?” tanya saya.

“Iya. Gue akan berubah lagi sambil ngebawa apa yang udah ada dari sini,” jawab dia.

Di salah satu podcast Ust. @felix.siauw, ada blio bilang, “Kalo stuck, jalan-jalan atau pindah kota. Nanti apa yang ditinggal akan digantikan. Rezeki akan diganti, teman-teman baru akan diganti, dan juga pengalaman dapet pengalaman baru.”

Saya jadi paham, bisa jadi … dari banyak teman-teman yang lagi apply beasiswa itu, bukan hanya kuliah dan pendidikannya yang dikejar, tetapi juga ‘hidup baru’ di tempat baru.

Saya sendiri, yang enggak kuliah di sini, ngerasa bahwa enggak ada yang saya tinggalkan. Semua saya bawa ke sini, saya coba lagi di sini.

“Jadi, Sydney menyembuhkan?” tanya dia ke saya setelah saya cerita tentang kota ini yang ngebuat saya sembuh.

“Yeah, Sydney escapism is real.

Tapi itu ada syaratnya, sih.

Apa-apa, kan, dimulai dengan niat, ya.

Saya emang meniatkan kepindahan saya buat healing, buat menemukan hal baru, buat nyoba sekali lagi, jadi … saya enggak mikirin satu hal yang bikin stress; uang. Ini di-provide si Tuan.

Jadi enggak seindah dan semudah itu juga. Ada S&K-nya. Buat anak-anak beasiswa, emang lebih lancar urusan ini biasanya.

Trus, saya hidup di sini dengan sangat basic banget. Semua secukupnya aja.

Gitu ceritanya, slice of life aja. ^^

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.