Dari duluuu … kayaknya saya sering memendam sesuatu dan kalo enggak tahan, saya jadiin do’a. Saya banyak berdo’a. Saya baru ngeh juga. 😀

Saya enggak tahu ini buruk atau enggak, sih. Soalnya tiap kali ada kejadian atau keadaan yang saya enggak bisa ubah sementara itu menyakitkan saya, saya kadang enggak tahu musti gimana. Yang saya tahu cuma; berdo’a. Banyak juga masa di mana saya enggak tahu apakah berdo’a itu ada gunanya dan ada artinya. Yang saya pahami cuma efek dari berdo’a itu; at least, saya udah mengatakan yang sejujurnya sama Allah tentang apa yang saya rasakan. Walopun Allah akan tahu juga tanpa saya katakan, tetapi saya tetap merasa perlu mengatakannya, sampai telinga saya dengar apa yang mulut saya suarakan.
Lama-lama … saya mulai lihat do’a-do’a itu jadi sesuatu. Jadi nyata. Lalu, bisa jadi … kadang, jadi aneh.
Bukan ‘aneh’ dalam artian buruk, ya. Aneh karena … emang aneh. Enggak masuk akal. Enggak bisa diterima logika mana pun yang bisa saya pakai buat memahaminya.
Misalnya, saya sering banget berdo’a tentang tempat. Saya mau tempat. Yang saya bayangkan adalah kota, bukan rumah. Lalu, beberapa tahun belakangan do’a itu jadi nyata. Saya bisa akses kota, tetapi enggak punya rumah di kota itu. Saya ternyata emang enggak minta diberikan kemampuan buat punya rumah. Saya cuma minta kotanya aja. Beberapa waktu belakangan, hal ini saya omongin juga sama si Tuan karena sejak awal nikah sampai sekarang, kami enggak pernah benar-benar menginginkan rumah. Kami enggak berusaha kredit rumah atau menabung buat beli rumah. Urusan sekolah si Tuan dan anak-anak adalah pos pengeluaran paling besar dan saya enggak akan pikir dua kali buat mengeluarkannya. Sayangnya … saya enggak pernah memikirkan buat punya rumah.
Apa saya memendam keinginan buat punya rumah, ya? Kayaknya enggak juga. Saya emang enggak kepengen aja. Saya mau akses, mau kemudahan untuk pergi ke sana-sini, tetapi saya enggak mau ribet urusan beli rumah, bangun rumah, renovasi rumah, dan sejenisnya.
Saya belum tahu apakah saya akan mulai berdo’a untuk diberikan rumah sama Allah sehabis ini. Hehe.
Saya juga banyak memendam tentang keburukan perilaku orang ke saya. Biasanya enggak saya utarakan karena … saya enggak bisa. Palingan saya diem. Makanya di banyak waktu, banyak orang yang enggak atau belum paham caranya memperlakukan orang lain atau punya adab yang belum baik, ngebuat saya sedih. Saya mau negor juga males…. Itu, kan, tanggung-jawab personal buat belajar adab dan kesopanan. Kalo seseorang itu enggak punya, maka bisa jadi emang akses ke adab dan kesopanan ini enggak dibukakan sama orang tua mereka. Bisa jadi orang tua mereka emang yaaah … begitu lah, sama aja. Biasanya, orang-orang kayak gini berlindung di balik kata-kata, “Kami orang bodoh. Orang kampung.” Kelar udah. Seolah alasan kebodohan dan kampung bisa dijadikan perlindungan dari tanggung-jawab karena menyakiti orang lain.
Lalu, semua saya pendam. Saya jadiin do’a yang telinga saya dengar.
Banyak hari, saya enggak memendam juga, sih. Saya cerita ke si Tuan biar saya enggak mendendam. Saya sadar kalo saya punya kecenderungan buat mengingat dengan detail banyak peristiwa soalnya. Banyak juga yang akhirnya bukan jadi dendam tetapi jadi do’a yang enggak berkesudahan. Misalnya ketika saya dikatain dan diteriakin seseorang yang sudah saya bantu di masa lalu. Trus, saya dibilang iri sama kecantikan dan prestasinya. Saya buat telinga saya dengar kalo saya mau kecantikan dan prestasi yang lebih dari yang dia punya dan dia tuduhkan saya iri itu. Saya ingat ini karena beberapa waktu lalu, si Tuan mengingatkan saya sama kejadian itu.
Dia bilang, “Inget si X, kan? Dulu dia nuduh lo iri sama kecantikan dan prestasi dia bukan? Lo diem aja, kan. Trus bertahun-tahun kemudian, sekarang ini, mau dia jungkir balik kayak gimana juga, dua hal itu enggak akan bisa dia saingi dari lo.”
“Karena gue jadi lebih cantik?” tanya saya.
“Bukan,” jawab si Tuan. “Karena lo punya duit. Karena duit lo ada buat ke salon, perawatan, dan gue enggak pernah ngelarang lo ngelakuin itu. Gue support. Kita dikasih rezeki. Itu aja. Urusan prestasi, lo dikelilingi banyak support dan akses sebenernya. Entah gimana itu datangnya, yang jelas itu semua karena lo usaha juga.”
Support dan effort.
Saya masih memendam banyak hal sekarang. Masih berdo’a tentang hal-hal yang belum tercapai dan terjadi, bersyukur sama yang udah dikasih, hidup jadinya begitu-begitu aja tiap hari. Hehe.
Saya nulis ini karena hari ini saya memendam lagi. Saya berdo’a lagi.