Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis di Quora tentang sosial media. Tulisannya udah saya delete, entah kenapa–saya juga udah lupa. Di sana saya menulis bahwa saya membatasi diri dengan sangat untuk tidak menggunakan sosial media. Saya enggak upload, enggak ngeliat sosial media orang lain, dan menghindari keriuhannya. Namun, sebulan terakhir, saya berpikir ulang dan merevisi pemikiran saya itu. Buat saya, pemikiran itu musti dikalibrasi juga, kalo udah enggak sesuai, yaaa … direvisi.

Kota ini terlalu metropolis untuk selera saya, tapi saya tetap sukaaa….
Terakhir saya aktif di sosial media mungkin … beberapa tahun yang lalu. Alasannya untuk enggak aktif, waktu itu, adalah; saya enggak merasa bahagia. Ini kejujuran yang baru saya pahami beberapa waktu belakangan. Bukan enggak bahagia yang saya merasa sedih terus, tapi lebih ke; kayaknya, kok, hidup saya berat, ya? Kok, banyak hal yang ngebikin saya tertekan, ya? Kok, saya lebih banyak sedihnya, ya? Pergi dari sosial media adalah usaha saya untuk mengisolasi diri. Saya enggak mau orang lihat betapa saya enggak bisa ‘menikmati’ hidup saya. Takut keliatan enggak bersyukur dengan mengeluh macam-macam.
Saya paham bahwa kata-kata yang saya tulis itu akan menyampaikan perasaan saya ketika menuliskannya. Kayak; warna perasaan saya itu luntur gitu ke tulisan, foto, atau video yang saya buat. Jadi, saya memilih untuk ‘melunturkan’ hal itu ke tempat lain; games, podcast, dan Youtube. Sambil menahan dengan sabar apa pun yang sedang terjadi di sepanjang waktu itu, saya mempelajari tentang banyak hal. Sayangnya, ada satu hal yang enggak saya pelajari ketika itu dan baru diajarkan Ayah saya ketika si Ayah rutin menelepon saya untuk mengajarkan saya tentang tauhid (ketuhanan), yaitu; dunia dan seisinya ini diciptakan Allah untuk dinikmati dan disyukuri oleh manusia.
Ada satu kalimat yang dikirimkan teman saya di Instagram, yang kena banget di hati saya sewaktu saya baca:

Tugas manusia, kata Bang Diki, adalah untuk bahagia dunia dan akhirat.
Ini sejalan dengan apa yang diajarkan si Ayah walaupun saya perlu diskusi dengan beliau tentang kalimat ini. Saya nanya ke si Ayah, “Apa benar tugas manusia itu cuma harus bahagia dunia dan akhirat?”
Si Ayah jawab, “Benar itu. Kebahagian manusia itu adalah dengan cara mensyukuri dan menikmati apa yang Allah kasih ke kita.”
“Penderitaan sekali pun?”
“Penderitaan itu juga perlu disyukuri karena bisa jadi itu rencananya Allah.”
Saya mau bilang ini, sih: Belajar tauhid itu syusaaah! Hiks.
Awalnya, saya mulai menelepon si Ayah untuk ngobrol panjang-lebar sejak lebaran tahun ini. Biasanya hanya nanya kabar aja. Setelah adik saya, Husni, meninggal dunia, saya mulai menelepon si Ayah. Ketika saya pulang ke kampung untuk mengunjungi mereka beberapa hari setelah Husni meninggal–saya enggak bisa langsung pulang ketika itu karena sedang berada di rumah Simbah Puteri (mertua) di Salatiga. Beberapa hari kemudian, si Tuan berangkat ke Sydney. Jadi, saya berangkat ke kampung sehari setelah si Tuan berangkat. Di sana, si Ayah menceritakan banyak hal, termasuk tentang bagaimana Husni meninggal dan si Ayah ‘mengantarkannya’.

Bangunan di dekat University of Sydney.
Telepon-telepon kami di awal-awal, hanya ngebahas tentang hal-hal ringan. Setelah saya sedih banget dua bulan lalu, si Ayah mulai rutin menelepon saya 2-3 hari sekali, 2-3 jam sekali menelepon. Sekarang saya paham mengapa beliau melakukan itu. Bukan untuk menghibur saya, tapi untuk membuat saya paham bahwa kalo saya didzalimi, do’a saya itu akan sampai ke Allah tanpa hijab. Ayah saya, berusaha mengajarkan saya bahwa saya enggak boleh berdo’a untuk orang lain ketika itu, apalagi berdo’a untuk keburukan orang lain. Saya bahkan dilarang untuk menagih tanggung-jawab orang lain ke saya yang berupa uang. Si Ayah mengizinkan saya untuk menyampaikan berapa jumlahnya, tapi sudah … sampai di situ.
Banyak waktu yang saya habiskan untuk berpikir; apa hubungannya antara tauhid dengan kesedihan?
Mengapa saya yang sedang sedih malah dinasehatkan untuk memahami ketuhanan?
Itu juga yang kemudian membuat telepon-telepon itu, ketika ‘pelajaran’ yang dijelaskan si Ayah semakin dalam dan perlu dipikirkan lebih lama, menjadi semakin panjang jarak di antaranya. Jadi seminggu sekali, lalu dua minggu sekali. Di pekan ini, saya mulai paham bahwa: Eh, iya, yaaa … kalo ada Allah, kenapa juga musti sedih? Sedih, mah, kalo ditinggal sama Allah. Hadeeeh.
Ada juga bercandaan si Ayah, semacam: Harusnya belajar tauhid ini lebih mudah sekarang karena hati kamu lagi kecewa sama dunia. Saya mengiyakan itu. 😀

Berasa kayak di SCBD, ya?
Trus, apa hubungannya antara sosial media dengan tugas manusia untuk bahagia dunia-akhirat?
Ternyata, yaaa … saya juga memahami bahwa cara saya untuk bersyukur itu adalah dengan membekukannya (capturing) dan meromantisasinya. Saya sekolah film dulunya, walaupun sekarang saya nyasar ke mana-mana. 😀
Audio-visual itu adalah cara berkomunikasi yang saya pelajari di sekolah film untuk memperkaya apa yang sudah saya suka dari kecil; berkomunikasi dengan tulisan (teks). Tempat ini, Sydney, adalah do’a si Tuan sejak lama. Ada bercandaan si Tuan bilang bahwa, “Australia isn’t for beginner,” karena emang begitu jalannya buat dia. Dia ke US dulu, baru ke sini. Padahal keinginannya adalah untuk kuliah di Australia sejak awal dia mendaftar beasiswa. Baru Allah kasih sekarang dan ketika sudah didapatkan, ternyata ada hikmahnya; si Tuan itu sudah lebih siap untuk apa pun yang ada di sini. Begitu pun dengan keadaan keluarga kami–anak-anak, orang tua, dan saya juga.
Ketika di Fayetteville (Arkansas), saya banyak mengambil foto, merajut, masak, dan membuat kue. Saya foto dan saya ceritakan. Itu adalah cara saya bersyukur dengan apa yang saya dapat; kesempatan untuk tinggal di tempat seindah itu. Lalu, saya berpikir; mengapa saya berubah hanya karena saya merasakan banyak emosi yang enggak baik? Bersyukur, mah, enggak ada kaitannya dengan emosi, harusnya. Atau saya balik, deh; jangan-jangan, dengan bersyukur, saya malah lebih mudah bahagia?
Jawabannya: Ternyata benar. 😀

Di depan Art Gallery ini, ada kolam pantulnya gitu. Jadi bisa ngambil foto kayak gini….
Saya meromantisasi kota ini untuk bersyukur. Saya mengambil foto dan video untuk mengabarkan ke teman-teman saya di sosial media bahwa dunia ini luas, nikmat Allah juga luas, tempat kita tinggal juga nikmat yang enggak bisa didustakan. Saya juga sangat suka tempat tinggal saya di sekitaran Cibubur, Jakarta. Dengan segala plus dan minusnya. Sayangnya, ketika itu, saya enggak mengabadikannya karena saya lagi hiatus sosial media itu. Huft.
Seperti ketika saya bertemu dengan orang baru dan sangat mensyukuri pertemuan itu, maka saya akan berbicara yang baik-baik tentang orang tersebut ke orang lain. Saya ingin mengabadikan pertemuan itu, kebaikannya, kenangannya, dan pelajarannya. Dengan harapan, orang lain yang saya ceritakan itu juga akan merasakan hal yang sama. Cerita yang baik-baik dengan dasar kesyukuran itu juga kebaikan, kan? 😀
(Kalo saya ketemu sama orang yang sudah tua atau dituakan, biasanya saya minta, “Nasehati saya.” Biasanya, nasehat yang mereka berikan itu sesuatu yang sangat sederhana. Yang saya juga udah sering denger, tapi saya enggak percaya. Hahaaa….)
Dengan pemikiran itu, saya pun memutuskan untuk meromantisasi kota ini dengan kata dan do’a. Saya ingin bersyukur dengan cara itu. Saya ingin menikmati rezeki dari Allah ini dengan menjadikan kota ini hamparan yang saya bisa jelajahi dan ceritakan kembali.
Dan … dalam proses itu, proses bercerita itu, saya merasa bahagia.
Saya juga dapet teman-teman baru, para ibu-ibu di Threads yang juga tinggal di Australia dan negara lain. Kami saling berbalas utas tentang masakan, makanan, dan bunga-bunga. 😀
Ternyata, yaaa … emang bener kata si Ayah bahwa dasarnya bahagia dan tenang itu adalah bersyukur. Mungkin–ini sependek pemikiran saya aja, ya–kalo kita bersyukur rezekinya akan ditambah itu, ‘ditambahnya’ enggak musti dengan materi karena enggak semua rezeki itu bentuknya materi, kan. Bisa jadi, kemudahan dan ketenangan untuk menikmati rezeki itu juga sesuatu yang ‘ditambahkan’.

Trus, saya juga mulai membiasakan diri untuk nge-like dan nge-love postingan temen-temen di sosial media. Bukan buat caper, ya…. Tapi, saya memperlakukan like dan love itu sebagai do’a, ikut nge-alhamdulillah-in gitu. 😀
Tulisan ini juga didorong oleh Al Qur’an Surah Al-Ankabut ayat 29:
قُلْ سِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ بَدَأَ ٱلْخَلْقَ ۚ ثُمَّ ٱللَّهُ يُنشِئُ ٱلنَّشْأَةَ ٱلْـَٔاخِرَةَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ
Say, ˹O Prophet,˺ “Travel throughout the land and see how He originated the creation, then Allah will bring it into being one more time. Surely Allah is Most Capable of everything.
Sama Allah, ternyata kita disuruh jenjalan. Lah … asyik~
(Si Octa wise banget sekarang, hahahaaa….)
Gitu, sih.
Menurut Manteman, gimana?
Saya pengen nyeritain lebih banyak tentang urusan tauhid yang diajarkan si Ayah itu, tapi … saya ngerasa belum mampu. Kayaknya masih banyak yang belum saya pahami. Jadi, saya berusaha pahami dulu sebaik-baiknya, biar ketika saya udah mampu nulisnya, enggak ada yang salah.
Hari ini, setelah nulis ini, saya mau mandi, trus ke perpus deket rumah buat daftar kursus bahasa Inggris. Trus ke kampus si Tuan biar bisa belanja baliknya.
Manteman hari ini mau ngapain rencananya?